ICARE PERKUAT TATA KELOLA PROYEK LEWAT WORKSHOP ESF, KM, DAN PROCUREMENT DI MANADO
Manado, 10 Desember 2025. Balai Besar Pengembangan dan Penerapan Modernisasi Pertanian (BBP2MP), menyelenggarakan Workshop Knowledge Management (KM), Procurement, dan Penguatan Environmental and Social Framework (ESF) Proyek ICARE selama tiga hari, yaitu pada Senin–Rabu, 8–10 Desember 2025, di Hotel Grand Luley, Manado, Sulawesi Utara.
Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 70 peserta yang terdiri atas perwakilan dari 10 Project Implementation Units (PIU), PMU ICARE, World Bank, serta narasumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Minahasa Utara; turut hadir pula Kepala BRMP Sulawesi Utara dalam rangka memperkuat sinergi pelaksanaan Proyek ICARE secara nasional.
Dalam sambutan pembukaan, Syahrizal Muttakin, S.P., M.Si., Ph.D., selaku Manager ICARE, menekankan pentingnya integrasi antara Knowledge Management, Procurement, dan Environmental and Social Framework sebagai fondasi tata kelola proyek yang transparan, akuntabel, dan berkelanjutan, khususnya mengingat penambahan BBP2MP sebagai PIU ke-10 yang memperluas cakupan dan kompleksitas implementasi program, sehingga pengelolaan pengetahuan, tata kelola pengadaan, serta mitigasi risiko sosial-lingkungan perlu diperkuat secara sistemik dan terkoordinasi.
Workshop dirancang dalam tiga pilar utama: pertama, Knowledge Management, meliputi pemaparan dari 9 PIU, paparan dari KM Specialist World Bank, serta diskusi teknis penyusunan roadmap KM terintegrasi; kedua, Procurement, mencakup pelatihan penyusunan Annual Work Plan (AWP) dan Procurement Plan, pembuatan dokumen pengadaan, serta diskusi penyesuaian prosedur dengan regulasi nasional dan standar Bank Dunia; dan ketiga, Environmental and Social Framework (ESF), yang menggabungkan sesi teori dan praktik melalui simulasi screening risiko lingkungan dan sosial di lokasi Koperasi ICARE di Minahasa Utara, serta pelatihan Grievance Redress Mechanism (GRM) dan manajemen pemangku kepentingan.
Puncak kegiatan pada hari kedua melalui kunjungan lapangan, di mana peserta secara langsung mempraktikkan environmental and social screening di lokasi penguatan rantai nilai pertanian di bawah panduan konsultan sosial-lingkungan dan KLH, sehingga memperkuat kapasitas mereka dalam mengidentifikasi, menilai, dan mengelola dampak potensial terhadap masyarakat dan lingkungan.
Workshop ditutup dengan komitmen seluruh PIU untuk menindaklanjuti rencana aksi melalui peer learning, sehingga Proyek ICARE diharapkan dapat semakin adaptif, inklusif, dan berdampak luas terhadap peningkatan ketahanan pangan serta kesejahteraan petani di 9 provinsi prioritas.
(DAR)